Bulan pertama di tahun 2009 ini tidak banyak film yang berhasil saya tonton. Terhitung hanya lima buah judul saja yang sempat saya santap dan itu pun film-film yang sudah cukup lama dirilis. Film yang pertama saya tonton justru sebuah film yang sebenarnya malas sekali untuk mencobanya. Berhubung d itempat kerja gak ada yang lain, maka The Mutant Chronicles terpaksa menjadi judul pembuka film-film 2009 yang anehnya baru akan main di bioskop lokal paling telat tiga bulan ke depan. Dari judulnya, saya mengira film ini semenarik The Chrinicles of Narnia, tapi ternyata film ini lebih mengecewakan dari pada The Chronicles of Roddick. Entah apa yang membuat beberapa nama besar mau bergabung dalam film kelas B seperti ini. Thomas Jane yang telah dikenal berkat film-film bekennya seperti Deep Blue Sea, The Punisher, ataupun The Mist, juga mau-maunya menjadi sang ‘jagoan dalam film butut seperti ini. Demikian juga dengan Ron Perlman. Entah karena kurang job atau orientasi uang, sang Hellboy tersebut juga bahkan mempunyai peran yang cukup penting dalam film yang bersetting jauh di masa depan ini. Alkisah, sebuah mesin dari planet lain yang mampu mengubah manusia menjadi mutant terkubur selama beratus-ratus tahun di dalam Bumi. Akibat adanya perang ( yang mungkin di sini diibaratkan seperti perang dunia baru ) membuat mesin tersebut merasa terganggu, yang kemudian menarik para tentara dari kedua belah kubu yang sedang berseteru dan mengubahnya menjadi mutant sadis. Dan dapat ditebak, Jane, Perlman, dan beberapa ‘pahlawan terpilih’ lainnya termasuk Devon Aoki berjuang bahu membahu untuk memberantas mutant bengis tersebut sekaligus menghancurkan pabrik pembuatnya. Untuk ukuran film action, film ini tergolong sangat sadis. Banyak sekali adegan tangan terpotong, kepala putus, cipratan darah, dan berbagai adegan gory yang pastinya akan sulit membuat film ini ber rating P-13. Seperti halnya Hostel, Sin City, dan film-film horor sejenis yang lain, The Mutant Chronicles memang jualan darah sebagai dagangan utamanya, yang mungkin membuat film ini bakalan susah untuk dapat masuk di bioskop. Selebihnya, tidak ada hal logis dan layak diterima nalar yang dapat diperoleh dari film ini. Tapi, untuk sekedar fun, dan menikmati adegan-adegan aksi yang cukup berlebih, film ini mungkin masuk dalam kriterianya, tetapi sekali lagi sangat buruk secara kualitas.
Berbanding terbalik dengan film yang saya saksikan selanjutnya, August Rush. Cerita dan naskah yang ringan justru tidak membuat film ini terasa membosankan. Kepiawaian Kirsten Sheridan, sang sutradara dalam meracik kisah tentang pengejaran cita-cita seorang bocah kecil berumur tiga belasan tahun yang disajikan lewat drama musikal ini dapat dikatakan berhasil. Film yang menampilkan Freddie Highmore dalam peran terbaiknya ini meninggalkan kesan yang cukup mendalam seusai menyaksikan khususnya bagi saya pribadi. Penampilan dua co-starnya, Jonathan Rhys-Myers dan Keri Russell yang atraktif serta berhasil chemistrynya, ditambah dengan suguhan lagu-lagu yang easy listening dan indah membuat film ini manjadi salah satu film musikal terbaik tahun 2007. Tidak perlu mengambil tema seberat Chicago, seceria Enchanted, seromantis Moulin Rouge ataupun sekontroversi Hairspay, film ini justru bertenaga dengan muatan pesan moral yang inspiratif di dalamnya.
Dua film yang saya saksikan selanjutnya berinti cerita yang hampir sama yakni seputar orang yang sedang sekarat. Jika Alejandro Amenabar berani mengungkap kisah yang terbilang tabu di negaranya, maka Julian Schnabel membuat terobosan baru di industri sinema Perancis. Dalam The Sea Inside, Amenabar mengangkat kisah tentang Euthanasia di Meksiko yang pada waktu itu mungkin masih mengundang kontoversi di negaranya. Apa yang ditampilkan dalam film pemenang oscar untuk Best Foreign Languange ini sedikit mengingatkan sama filmnya Nia Dinata, Arisan! The Sea Inside menceritakan tentang upaya seorang lelaki yang tengah sekarat dan sudah tidak punya semangat hidup lagi. Putus asa karena menurutnya hidupnya sudah tak berarti, maka ia memutuskan untuk melakukan Euthanasia, yang merupakan kasus pertama kali di negaranya. Keputusannya itu menimbulkan pro dan kontra yang besar hingga masuk ke acara TV. Ramon Sampredo juga tidak asal melakukan euthanasia, karena sebelum ia tewas ia memutuskan untuk menulis sebuah buku tentang perjalanan hidupnya. Tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Sampredo untuk yang terakhir kali dalam hidupnya, Mathiew Almaric dalam The Diving Bell and The Butterfly juga menulis buku sebelum ia meninggal. Bedanya dengan Ramon yang menulis tentang keinginan Euthanasia, maka Almaric merupakan orang pertama yang menulis buku dengan menyusunnya per huruf ( bukan per kata ataupun per kalimat ). Dalam film tersebut diceritakan bahwa seorang lelaki tua yang tengah sekarat itu mengalami kerusakan susunan syaraf yang sangat parah dan ia hanya bisa berkomunikasi lewat kedipan matanya, dan itu pun hanya sebelah. Dengan dibantu seorang perawat yang mengajarkan teknik berkomunikasi seperti itu, maka Almaric mulai menulis sebuah buku yang kemudian berhasil diterbitkan di Perancis yang diberi judul The Diving Bell and The Butterfly. Baik The Diving Bell maupun The Sea Inside, keduanya merupakan film yang diangkat berdasarkan kisah nyata yang direpresentasikan dengan baik oleh para sutradaranya ke layer lebar. The Sea Inside selain mempunyai kekuatan di naskahnya, juga memperkenalkan actor watak spanyol, Javier Bardem. Aktingnya sebagai Ramon, orang yang sudah mempunyai prinsip akan hidupnya, patut diberi poin tersendiri. Sementara The Diving Bell, jelas unggul dari segi penyutradaraan dan sinematografinya. Tak heran jika Julian Schnabel dan Janusz Kaminski, sang cinematographer langanan Spielberg dapat nominasi oscar di sini. Kedua film itu mungkin tidak komersil dan saya yakin tidak banyak orang yang bakal betah duduk selama dua jam lebih masing-masing untuk menikmati film yang mereka bilang membosankan ini. Tapi bagi saya pribadi, kedua film itu benar-benar membuat saya terkesan hingga saat ini.
Film terakhir yang saya coba di Bulan Januari adalah Hancock. Dibintangi oleh pembuat dollarnya Hollywood, Will Smith, sebelumnya film ini tidak membuat saya tertarik. Namun setelah saya mencobanya, saya sedikit terkejut dengan film tentang superhero yang kalau kata orang Jawa mungkin ‘sakarepe dewek’ ini. Humor-humor yang segar dan efektif berhasil diselipkan oleh Peter Berg sang sutradara selain juga adegan-adegan aksi yang dapat dibilang cukup mewah untuk film sejenis ini. Dan satu lagi ada kejutan dari tokoh yang diperankan oleh Charlize Theron yang membuat film ini mendadak berubah menarik di pertengahan kisahnya. Peter Berg, yang terakhir merakit The Kingdom yang kontroversi dan menyesakkan, kali ini muncul dengan film ringan yang pastinya cocok untuk hiburan sekeluarga. Tidak seberat The Dark Knight, tidak juga semewah Iron Man, tapi film yang pastinya bakalan dibuatkan sekuel ini tampil perkasa dengan pendekatan tentang superhero bergaya baru.
Judgement Time
The Mutant Chronicles 1.5/5
August Rush 3/5
The Sea Inside 3/5
The Diving Bell and The Butterfly 3.5/5
Hancock 2.5/5
Minggu, 08 Februari 2009
Oscar Winner Prediction
Best Motion Picture of the Year
Slumdog Millionaire (2008): Christian Colson
Best Performance by an Actor in a Leading Role
Frank Langella for Frost/Nixon (2008)
Best Performance by an Actress in a Leading Role
Kate Winslet for The Reader (2008)
Best Performance by an Actor in a Supporting Role
Heath Ledger for The Dark Knight (2008)
Best Performance by an Actress in a Supporting Role
Penélope Cruz for Vicky Cristina Barcelona (2008)
Best Achievement in Directing
David Fincher for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
Happy-Go-Lucky (2008): Mike Leigh
Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
Slumdog Millionaire (2008): Simon Beaufoy
Best Achievement in Cinematography
Slumdog Millionaire (2008): Anthony Dod Mantle
Best Achievement in Editing
The Dark Knight (2008): Lee Smith
Best Achievement in Art Direction
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Donald Graham Burt, Victor J. Zolfo
Best Achievement in Costume Design
Australia (2008): Catherine Martin
Best Achievement in Makeup
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Greg Cannom
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Alexandre Desplat
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song
WALL•E (2008): Peter Gabriel, Thomas Newman("Down to Earth")
Best Achievement in Sound
The Dark Knight (2008): Ed Novick, Lora Hirschberg, Gary Rizzo
Best Achievement in Sound Editing
The Dark Knight (2008): Richard King
Best Achievement in Visual Effects
The Dark Knight (2008): Nick Davis, Chris Corbould, Timothy Webber, Paul J. Franklin
Best Animated Feature Film of the Year
WALL•E (2008): Andrew Stanton
Best Foreign Language Film of the Year
Okuribito (2008)(Japan)
Best Documentary, Features
Man on Wire (2008): James Marsh, Simon Chinn
Best Documentary, Short Subjects
Witness from the Balcony of Room 306, The (2008): Adam Pertofsky, Margaret Hyde
Best Short Film, Animated
This Way Up (2008): Alan Smith, Adam Foulkes
Best Short Film, Live Action
New Boy (2007): Steph Green, Tamara Anghie
Slumdog Millionaire (2008): Christian Colson
Best Performance by an Actor in a Leading Role
Frank Langella for Frost/Nixon (2008)
Best Performance by an Actress in a Leading Role
Kate Winslet for The Reader (2008)
Best Performance by an Actor in a Supporting Role
Heath Ledger for The Dark Knight (2008)
Best Performance by an Actress in a Supporting Role
Penélope Cruz for Vicky Cristina Barcelona (2008)
Best Achievement in Directing
David Fincher for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
Happy-Go-Lucky (2008): Mike Leigh
Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
Slumdog Millionaire (2008): Simon Beaufoy
Best Achievement in Cinematography
Slumdog Millionaire (2008): Anthony Dod Mantle
Best Achievement in Editing
The Dark Knight (2008): Lee Smith
Best Achievement in Art Direction
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Donald Graham Burt, Victor J. Zolfo
Best Achievement in Costume Design
Australia (2008): Catherine Martin
Best Achievement in Makeup
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Greg Cannom
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Alexandre Desplat
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song
WALL•E (2008): Peter Gabriel, Thomas Newman("Down to Earth")
Best Achievement in Sound
The Dark Knight (2008): Ed Novick, Lora Hirschberg, Gary Rizzo
Best Achievement in Sound Editing
The Dark Knight (2008): Richard King
Best Achievement in Visual Effects
The Dark Knight (2008): Nick Davis, Chris Corbould, Timothy Webber, Paul J. Franklin
Best Animated Feature Film of the Year
WALL•E (2008): Andrew Stanton
Best Foreign Language Film of the Year
Okuribito (2008)(Japan)
Best Documentary, Features
Man on Wire (2008): James Marsh, Simon Chinn
Best Documentary, Short Subjects
Witness from the Balcony of Room 306, The (2008): Adam Pertofsky, Margaret Hyde
Best Short Film, Animated
This Way Up (2008): Alan Smith, Adam Foulkes
Best Short Film, Live Action
New Boy (2007): Steph Green, Tamara Anghie
2009 Anticipated Movie
TOP 10 ANTICIPATED MOVIE OF 2009
2008 jelas tidak akan berlalu tanpa munculnya The Dark Knight. Kesuksesan baik itu secara kualitas maupun komersil membuat saya pribadi agak malas menatap film-film tahun 2009. Tahun 2009 bak pertaruhan judul-judul film yang berniat menandingi dan juga memberi kesan mendalam seperti halnya sekuel Batman Bagins tersebut. Meskipun, saya sebenarnya tidak begitu antisipasi di tahun 2009, setidaknya sepuluh judul di bawah menjadi semacam daftar film-film yang membuat saya penasaran kendatipun sekali lagi, euphoria The Dark Knight masih belum lepas hingga saya menulis ini…….
10. Dragon Ball : Evolution
Lebih karena kenangan waktu kecil ketika menjadikan film kartun ini sebagai tontonan favorit dan wajib tiap minggunya…….
9. Harry Potter and The Half-Blood Prince
Novelnya begitu kelam. David Yates juga sepertinya sudah fasih menerjemahkan seri penyihir cilik ini. Jangan lupa franchise Harry Potter juga selalu menarik berkat ikut bergabungnya puluhan actor dan actress berkualitas Inggris dan para caliber oscar.
8. Watchmen
Zack Snyder diyakini bakal membuat tontonan superhero dewasa ini berbeda dari kebanyakan film-film superhero. Ia juga dipastikan akan menemukan resep sehingga penonton akan betah dan berdecak kagum menyaksikan karyanya seperti saat ia menggarap Dawn of the Dead dan 300.
7. Public Enemies
Michael Mann sudah lama tidak terdengar gaungnya dan kabarnya bakal kembali lewat drama gangster yang dipenuhi bintang-bintang top dari The Dark Knight, Pirates of Caribbean, Iron Man, dan Step-Up.
6. Inglorious Basterd
Quentin, Quentin, and Quentin……….
5. Nine
Melihat barisan castnya film ini dijamin bukan tontonan sembarangan, dibintangi oleh 4 peraih oscar dan digarap oleh Rob Marshall, yang merupakan film ketiganya pasca Chicago dan Memoirs of a Geisha. Dua filmnya yang pertama dipuja-puji kritikus dan sukses di ajang oscar maupun perolehan box office.
4. Star Trek
Star Wars is over, and this is the time for Mr. Spock and Capt. Kirk….. Berhubung saya sama sekali buta mengenai Star Trek, maka semoga saja dengan di-remakenya serial fenomenal ini bakalan membuat saya menyukai dan mengikutinya. J.J Abrams juga tidak mengecewakan dengan MI:3 dan Cloverfieldnya.
3. Up
Saya sempat mengunderestimate Rattatoille dan Wall-E tempo hari. Kejutannya ternyata film underdog ini menyisakan kenangan dan hasil yang fantastis. Pixar dipercaya masih punya banyak ramuan untuk menyajikan animasi yang tidak kekanak-kanakan dan berkualitas.
2. Angels and Demons
Sebagai pecinta karya-karya Dan Brown, adaptasi novel berikutnya juga menjadi daftar tontonan wajib. Lupakan The DaVinci Code, yang memang mengecewakan apalagi bila dibandingkan dengan novelny, Karena Angels and Demons menawarkan kisah trilller tanpa mengandung bumbu kontroversi. Ron Howard, sebagai salah satu sutradara favorit saya, ditambah cast dari Ewan McGregor, semoga bisa membuat terror Illuminati ini menarik untuk disimak. Tak sabar juga menunggu Deception Point.
1. Avatar
Dari tahun 2007, film ini sudah membuat orang penasaran. James Cameron yang menutup rapat premis ceritanya dipastikan bakal melakukan come back yang berhasil lewat petualngan luar angkasa ini….. Jangan lupakan pula ada ratu petualangan luar angkasa, Sigourney Weaver….
2008 jelas tidak akan berlalu tanpa munculnya The Dark Knight. Kesuksesan baik itu secara kualitas maupun komersil membuat saya pribadi agak malas menatap film-film tahun 2009. Tahun 2009 bak pertaruhan judul-judul film yang berniat menandingi dan juga memberi kesan mendalam seperti halnya sekuel Batman Bagins tersebut. Meskipun, saya sebenarnya tidak begitu antisipasi di tahun 2009, setidaknya sepuluh judul di bawah menjadi semacam daftar film-film yang membuat saya penasaran kendatipun sekali lagi, euphoria The Dark Knight masih belum lepas hingga saya menulis ini…….
10. Dragon Ball : Evolution
Lebih karena kenangan waktu kecil ketika menjadikan film kartun ini sebagai tontonan favorit dan wajib tiap minggunya…….
9. Harry Potter and The Half-Blood Prince
Novelnya begitu kelam. David Yates juga sepertinya sudah fasih menerjemahkan seri penyihir cilik ini. Jangan lupa franchise Harry Potter juga selalu menarik berkat ikut bergabungnya puluhan actor dan actress berkualitas Inggris dan para caliber oscar.
8. Watchmen
Zack Snyder diyakini bakal membuat tontonan superhero dewasa ini berbeda dari kebanyakan film-film superhero. Ia juga dipastikan akan menemukan resep sehingga penonton akan betah dan berdecak kagum menyaksikan karyanya seperti saat ia menggarap Dawn of the Dead dan 300.
7. Public Enemies
Michael Mann sudah lama tidak terdengar gaungnya dan kabarnya bakal kembali lewat drama gangster yang dipenuhi bintang-bintang top dari The Dark Knight, Pirates of Caribbean, Iron Man, dan Step-Up.
6. Inglorious Basterd
Quentin, Quentin, and Quentin……….
5. Nine
Melihat barisan castnya film ini dijamin bukan tontonan sembarangan, dibintangi oleh 4 peraih oscar dan digarap oleh Rob Marshall, yang merupakan film ketiganya pasca Chicago dan Memoirs of a Geisha. Dua filmnya yang pertama dipuja-puji kritikus dan sukses di ajang oscar maupun perolehan box office.
4. Star Trek
Star Wars is over, and this is the time for Mr. Spock and Capt. Kirk….. Berhubung saya sama sekali buta mengenai Star Trek, maka semoga saja dengan di-remakenya serial fenomenal ini bakalan membuat saya menyukai dan mengikutinya. J.J Abrams juga tidak mengecewakan dengan MI:3 dan Cloverfieldnya.
3. Up
Saya sempat mengunderestimate Rattatoille dan Wall-E tempo hari. Kejutannya ternyata film underdog ini menyisakan kenangan dan hasil yang fantastis. Pixar dipercaya masih punya banyak ramuan untuk menyajikan animasi yang tidak kekanak-kanakan dan berkualitas.
2. Angels and Demons
Sebagai pecinta karya-karya Dan Brown, adaptasi novel berikutnya juga menjadi daftar tontonan wajib. Lupakan The DaVinci Code, yang memang mengecewakan apalagi bila dibandingkan dengan novelny, Karena Angels and Demons menawarkan kisah trilller tanpa mengandung bumbu kontroversi. Ron Howard, sebagai salah satu sutradara favorit saya, ditambah cast dari Ewan McGregor, semoga bisa membuat terror Illuminati ini menarik untuk disimak. Tak sabar juga menunggu Deception Point.
1. Avatar
Dari tahun 2007, film ini sudah membuat orang penasaran. James Cameron yang menutup rapat premis ceritanya dipastikan bakal melakukan come back yang berhasil lewat petualngan luar angkasa ini….. Jangan lupakan pula ada ratu petualangan luar angkasa, Sigourney Weaver….
Jumat, 30 Januari 2009
Oscar 2009
Just A Thought on Oscar 2009
Entah Anda seorang penggemar film sejati atau bukan, saya yakin paling tidak Anda pernah mendengar nama Academy Awards atau yang beken disebut dengan Oscar. Dengan segala keglamoran khas Hollywood, ajang penghargaan film yang ngakunya paling bergengsi dan terbesar itu telah memasuki usia yang ke-81. Dalam rentang waktu yang sudah cukup lama tersebut, Oscar kerap mengambil keputusan yang cukup kontroversi terutama para pemenangnya, kendatipun tidak meninggalkan ‘tradisi’ lamanya. Tradisi yang dimaksud di sini tentu saja adalah kemenangan film-film tentang biopic dan juga para pemainnya. Kemenangan A Beautiful Mind sebagai film terbaik yang merupakan biografi singkat dari matematikawan jenius yang gila, mengawali menjamurnya film-film biopic yang berjaya di ajang oscar. Okelah, Russell Crowe ( John Nash ), dan Will Smith ( Muhammad Ali ) gagal meraih oscar, tapi bagaimana dengan Jennifer Connelly yang membawa pulang oscar untuk best supp actress atas perannya sebagai Alicia Nash, istri John Nash yang selalu setia menemani sang suami hingga meraih nobel….?? Oscar ke-75 menjadi puncak karier bagi Nicole Kidman ketika ia sukses menyabet oscar berkat perannya sebagai novelis Virginia Woolf, berpasangan dengan Adrien Brody ( Wladyslaw Szpilman ), seorang pemain piano yang hidupnya berubah menderita di masa kekejaman Nazi. Dua tahun berikutnya, berturut-turut giliran Charlize Theron ( Aileen Wuornos ) dan Jamie Foxx ( Ray Charles ) yang tersenyum lebar atas peran tokoh nyatanya. Dua kali penyelenggaraan oscar selanjutnya menjadi semacam pengulangan oscar ke-75 saat dua peraih best actor dan best actressnya sukses memerankan sosok nyata. Adalah Philip Seymour Hoffman ( Truman Capote ) yang berpasangan dengan Reese Witherspoon ( June Carter ) dan Forest Whitaker ( Idi Amin ) yang berpasangan dengan Helen Mirren ( Queen Elizabeth 2 ) meraih oscar. Sedangkan oscar terakhir seperti memaksakan diri ketika menobatkan Marion Cotillard sebagai actress terbaik setelah memerankan penyanyi legendaris Perancis, Edith Piaf yang meninggal di usia muda saat kariernya sedang naik daun.
Lalu bagaimana dengan oscar ke-81 ini,…?? Lepas dari kekecawaan akibat tidak masuknya Wall-E dan The Dark Knight di jajaran nominasi best picture, munculnya kembali langganan oscar Meryl Streep, dan absennya Sally Hawkins, yang jelas baru saja meraih golden globe, tradisi tahunan oscar seperti yang saya sampaikan di atas, saya rasa bakal kembali berulang. Memang agak susah untuk menebak film atau actor mana yang akan meraih oscar akibat keterbatasan film biopic yang dinominasikan, tapi saya masih yakin bahwa AMPAS masih akan memakai resep sebelumnya. Josh Brolin ( Milk ) mungkin harus mengalah memberikan piala best supp actornya kepada Health Ledger kendati ia satu-satunya nominator dari film biopic. Di bagian actor terbaik, dua tokoh nyata Sean Penn ( Harvey Milk ) dan Frank Langella ( Richard Nixon ) jelas harus bersaing ketat dengan Mickey Rourke. Persaingan Nixon dan Milk juga berlanjut di best picture kendatipun di sini mereka mendapat saingan yang lebih berat dari Slumdog Millionaire. Andaikan filmnya Danny Boyle itu yang nantinya meraih best picture, maka kemungkinan Frank Langella lah yang akan sukses merebut actor terbaik. Ini juga menjadi pertanda saat pertama kalinya seorang actor meraih piala oscar ketika memerankan figure seorang presiden America. Di jajaran actress terbaik, mungkin ini saatnya bagi Kate Winslet meraih oscar pertamanya setelah beberapa kali dinominasikan dan gagal. Mengingatkan kepada Martin Scorsese ketika akhirnya berhasil meraih oscar kendatipun bukan lewat film terbaiknya kemungkinan yang sama bakal terjadi juga kepada Winslet.
Apapun dan siapapun pemenangnya, oscar selama satu dasawarsa terakhir ini selalu memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh besar nyata yang telah wafat melalui sebuah film. Akankah tradisi tersebut absent tahun ini,…? Saya rasa tidak !
Complete Nominies and Winner Prediction
Best Motion Picture of the Year
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Ceán Chaffin, Kathleen Kennedy, Frank Marshall
Frost/Nixon (2008): Brian Grazer, Ron Howard, Eric Fellner
Milk (2008): Bruce Cohen, Dan Jinks
The Reader (2008): Nominees to be determined
Slumdog Millionaire (2008): Christian Colson
Best Performance by an Actor in a Leading Role
Nominees:
Richard Jenkins for The Visitor (2007/I)
Frank Langella for Frost/Nixon (2008)
Sean Penn for Milk (2008)
Brad Pitt for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Mickey Rourke for The Wrestler (2008)
Best Performance by an Actress in a Leading Role
Nominees:
Anne Hathaway for Rachel Getting Married (2008)
Angelina Jolie for Changeling (2008)
Melissa Leo for Frozen River (2008)
Meryl Streep for Doubt (2008/I)
Kate Winslet for The Reader (2008)
Best Performance by an Actor in a Supporting Role
Nominees:
Josh Brolin for Milk (2008)
Robert Downey Jr. for Tropic Thunder (2008)
Philip Seymour Hoffman for Doubt (2008/I)
Heath Ledger for The Dark Knight (2008)
Michael Shannon for Revolutionary Road (2008)
Best Performance by an Actress in a Supporting Role
Nominees:
Amy Adams for Doubt (2008/I)
Penélope Cruz for Vicky Cristina Barcelona (2008)
Viola Davis for Doubt (2008/I)
Taraji P. Henson for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Marisa Tomei for The Wrestler (2008)
Best Achievement in Directing
Nominees:
Danny Boyle for Slumdog Millionaire (2008)
Stephen Daldry for The Reader (2008)
David Fincher for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Ron Howard for Frost/Nixon (2008)
Gus Van Sant for Milk (2008)
Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
Nominees:
Frozen River (2008): Courtney Hunt
Happy-Go-Lucky (2008): Mike Leigh
In Bruges (2008): Martin McDonagh
Milk (2008): Dustin Lance Black
WALL•E (2008): Andrew Stanton, Pete Docter, Jim Reardon
Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Eric Roth, Robin Swicord
Doubt (2008/I): John Patrick Shanley
Frost/Nixon (2008): Peter Morgan
The Reader (2008): David Hare
Slumdog Millionaire (2008): Simon Beaufoy
Best Achievement in Cinematography
Nominees:
Changeling (2008): Tom Stern
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Claudio Miranda
The Dark Knight (2008): Wally Pfister
The Reader (2008): Roger Deakins, Chris Menges
Slumdog Millionaire (2008): Anthony Dod Mantle
Best Achievement in Editing
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Angus Wall, Kirk Baxter
The Dark Knight (2008): Lee Smith
Frost/Nixon (2008): Daniel P. Hanley, Mike Hill
Milk (2008): Elliot Graham
Slumdog Millionaire (2008): Chris Dickens
Best Achievement in Art Direction
Nominees:
Changeling (2008): James J. Murakami, Gary Fettis
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Donald Graham Burt, Victor J. Zolfo
The Dark Knight (2008): Nathan Crowley, Peter Lando
The Duchess (2008): Michael Carlin, Rebecca Alleway
Revolutionary Road (2008): Kristi Zea, Debra Schutt
Best Achievement in Costume Design
Nominees:
Australia (2008): Catherine Martin
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Jacqueline West
The Duchess (2008): Michael O'Connor
Milk (2008): Danny Glicker
Revolutionary Road (2008): Albert Wolsky
Best Achievement in Makeup
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Greg Cannom
The Dark Knight (2008): John Caglione Jr., Conor O'Sullivan
Hellboy II: The Golden Army (2008): Mike Elizalde, Thomas Floutz
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Alexandre Desplat
Defiance (2008): James Newton Howard
Milk (2008): Danny Elfman
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman
WALL•E (2008): Thomas Newman
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song
Nominees:
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman, Gulzar("Jai Ho")
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman, Maya Arulpragasam("O Saya")
WALL•E (2008): Peter Gabriel, Thomas Newman("Down to Earth")
Best Achievement in Sound
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): David Parker, Michael Semanick, Ren Klyce, Mark Weingarten
The Dark Knight (2008): Ed Novick, Lora Hirschberg, Gary Rizzo
Slumdog Millionaire (2008): Ian Tapp, Richard Pryke, Resul Pookutty
WALL•E (2008): Tom Myers, Michael Semanick, Ben Burtt
Wanted (2008): Chris Jenkins, Frank A. Montaño, Petr Forejt
Best Achievement in Sound Editing
Nominees:
The Dark Knight (2008): Richard King
Iron Man (2008): Frank E. Eulner, Christopher Boyes
Slumdog Millionaire (2008): Tom Sayers
WALL•E (2008): Ben Burtt, Matthew Wood
Wanted (2008): Wylie Stateman
Best Achievement in Visual Effects
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Eric Barba, Steve Preeg, Burt Dalton, Craig Barron
The Dark Knight (2008): Nick Davis, Chris Corbould, Timothy Webber, Paul J. Franklin
Iron Man (2008): John Nelson, Ben Snow, Daniel Sudick, Shane Mahan
Best Animated Feature Film of the Year
Nominees:
Bolt (2008): Chris Williams, Byron Howard
Kung Fu Panda (2008): John Stevenson, Mark Osborne
WALL•E (2008): Andrew Stanton
Best Foreign Language Film of the Year
Nominees:
Der Baader Meinhof Komplex (2008)(Germany)
Entre les murs (2008)(France)
Revanche (2008)(Austria)
Okuribito (2008)(Japan)
Vals Im Bashir (2008)(Israel)
Best Documentary, Features
Nominees:
The Betrayal - Nerakhoon (2008): Ellen Kuras, Thavisouk Phrasavath
Encounters at the End of the World (2007): Werner Herzog, Henry Kaiser
The Garden (2008/I): Scott Hamilton Kennedy
Man on Wire (2008): James Marsh, Simon Chinn
Trouble the Water (2008): Tia Lessin, Carl Deal
Best Documentary, Short Subjects
Nominees:
Conscience of Nhem En, The (2008): Steven Okazaki
Final Inch, The (2008): Irene Taylor Brodsky, Tom Grant
Smile Pinki (2008): Megan Mylan
Witness from the Balcony of Room 306, The (2008): Adam Pertofsky, Margaret Hyde
Best Short Film, Animated
Nominees:
La Maison en Petits Cubes: Kunio Kato
Ubornaya istoriya - lyubovnaya istoriya (2007): Konstantin Bronzit
Oktapodi (2007): Emud Mokhberi, Thierry Marchand
Presto (2008): Doug Sweetland
This Way Up (2008): Alan Smith, Adam Foulkes
Best Short Film, Live Action
Nominees:
Auf der Strecke (2007): Reto Caffi
Manon sur le bitume (2007): Elizabeth Marre, Olivier Pont
New Boy (2007): Steph Green, Tamara Anghie
Grisen (2008): Tivi Magnusson, Dorthe Warnø Høgh
Spielzeugland (2007): Jochen Alexander Freydank
Entah Anda seorang penggemar film sejati atau bukan, saya yakin paling tidak Anda pernah mendengar nama Academy Awards atau yang beken disebut dengan Oscar. Dengan segala keglamoran khas Hollywood, ajang penghargaan film yang ngakunya paling bergengsi dan terbesar itu telah memasuki usia yang ke-81. Dalam rentang waktu yang sudah cukup lama tersebut, Oscar kerap mengambil keputusan yang cukup kontroversi terutama para pemenangnya, kendatipun tidak meninggalkan ‘tradisi’ lamanya. Tradisi yang dimaksud di sini tentu saja adalah kemenangan film-film tentang biopic dan juga para pemainnya. Kemenangan A Beautiful Mind sebagai film terbaik yang merupakan biografi singkat dari matematikawan jenius yang gila, mengawali menjamurnya film-film biopic yang berjaya di ajang oscar. Okelah, Russell Crowe ( John Nash ), dan Will Smith ( Muhammad Ali ) gagal meraih oscar, tapi bagaimana dengan Jennifer Connelly yang membawa pulang oscar untuk best supp actress atas perannya sebagai Alicia Nash, istri John Nash yang selalu setia menemani sang suami hingga meraih nobel….?? Oscar ke-75 menjadi puncak karier bagi Nicole Kidman ketika ia sukses menyabet oscar berkat perannya sebagai novelis Virginia Woolf, berpasangan dengan Adrien Brody ( Wladyslaw Szpilman ), seorang pemain piano yang hidupnya berubah menderita di masa kekejaman Nazi. Dua tahun berikutnya, berturut-turut giliran Charlize Theron ( Aileen Wuornos ) dan Jamie Foxx ( Ray Charles ) yang tersenyum lebar atas peran tokoh nyatanya. Dua kali penyelenggaraan oscar selanjutnya menjadi semacam pengulangan oscar ke-75 saat dua peraih best actor dan best actressnya sukses memerankan sosok nyata. Adalah Philip Seymour Hoffman ( Truman Capote ) yang berpasangan dengan Reese Witherspoon ( June Carter ) dan Forest Whitaker ( Idi Amin ) yang berpasangan dengan Helen Mirren ( Queen Elizabeth 2 ) meraih oscar. Sedangkan oscar terakhir seperti memaksakan diri ketika menobatkan Marion Cotillard sebagai actress terbaik setelah memerankan penyanyi legendaris Perancis, Edith Piaf yang meninggal di usia muda saat kariernya sedang naik daun.
Lalu bagaimana dengan oscar ke-81 ini,…?? Lepas dari kekecawaan akibat tidak masuknya Wall-E dan The Dark Knight di jajaran nominasi best picture, munculnya kembali langganan oscar Meryl Streep, dan absennya Sally Hawkins, yang jelas baru saja meraih golden globe, tradisi tahunan oscar seperti yang saya sampaikan di atas, saya rasa bakal kembali berulang. Memang agak susah untuk menebak film atau actor mana yang akan meraih oscar akibat keterbatasan film biopic yang dinominasikan, tapi saya masih yakin bahwa AMPAS masih akan memakai resep sebelumnya. Josh Brolin ( Milk ) mungkin harus mengalah memberikan piala best supp actornya kepada Health Ledger kendati ia satu-satunya nominator dari film biopic. Di bagian actor terbaik, dua tokoh nyata Sean Penn ( Harvey Milk ) dan Frank Langella ( Richard Nixon ) jelas harus bersaing ketat dengan Mickey Rourke. Persaingan Nixon dan Milk juga berlanjut di best picture kendatipun di sini mereka mendapat saingan yang lebih berat dari Slumdog Millionaire. Andaikan filmnya Danny Boyle itu yang nantinya meraih best picture, maka kemungkinan Frank Langella lah yang akan sukses merebut actor terbaik. Ini juga menjadi pertanda saat pertama kalinya seorang actor meraih piala oscar ketika memerankan figure seorang presiden America. Di jajaran actress terbaik, mungkin ini saatnya bagi Kate Winslet meraih oscar pertamanya setelah beberapa kali dinominasikan dan gagal. Mengingatkan kepada Martin Scorsese ketika akhirnya berhasil meraih oscar kendatipun bukan lewat film terbaiknya kemungkinan yang sama bakal terjadi juga kepada Winslet.
Apapun dan siapapun pemenangnya, oscar selama satu dasawarsa terakhir ini selalu memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh besar nyata yang telah wafat melalui sebuah film. Akankah tradisi tersebut absent tahun ini,…? Saya rasa tidak !
Complete Nominies and Winner Prediction
Best Motion Picture of the Year
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Ceán Chaffin, Kathleen Kennedy, Frank Marshall
Frost/Nixon (2008): Brian Grazer, Ron Howard, Eric Fellner
Milk (2008): Bruce Cohen, Dan Jinks
The Reader (2008): Nominees to be determined
Slumdog Millionaire (2008): Christian Colson
Best Performance by an Actor in a Leading Role
Nominees:
Richard Jenkins for The Visitor (2007/I)
Frank Langella for Frost/Nixon (2008)
Sean Penn for Milk (2008)
Brad Pitt for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Mickey Rourke for The Wrestler (2008)
Best Performance by an Actress in a Leading Role
Nominees:
Anne Hathaway for Rachel Getting Married (2008)
Angelina Jolie for Changeling (2008)
Melissa Leo for Frozen River (2008)
Meryl Streep for Doubt (2008/I)
Kate Winslet for The Reader (2008)
Best Performance by an Actor in a Supporting Role
Nominees:
Josh Brolin for Milk (2008)
Robert Downey Jr. for Tropic Thunder (2008)
Philip Seymour Hoffman for Doubt (2008/I)
Heath Ledger for The Dark Knight (2008)
Michael Shannon for Revolutionary Road (2008)
Best Performance by an Actress in a Supporting Role
Nominees:
Amy Adams for Doubt (2008/I)
Penélope Cruz for Vicky Cristina Barcelona (2008)
Viola Davis for Doubt (2008/I)
Taraji P. Henson for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Marisa Tomei for The Wrestler (2008)
Best Achievement in Directing
Nominees:
Danny Boyle for Slumdog Millionaire (2008)
Stephen Daldry for The Reader (2008)
David Fincher for The Curious Case of Benjamin Button (2008)
Ron Howard for Frost/Nixon (2008)
Gus Van Sant for Milk (2008)
Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen
Nominees:
Frozen River (2008): Courtney Hunt
Happy-Go-Lucky (2008): Mike Leigh
In Bruges (2008): Martin McDonagh
Milk (2008): Dustin Lance Black
WALL•E (2008): Andrew Stanton, Pete Docter, Jim Reardon
Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Eric Roth, Robin Swicord
Doubt (2008/I): John Patrick Shanley
Frost/Nixon (2008): Peter Morgan
The Reader (2008): David Hare
Slumdog Millionaire (2008): Simon Beaufoy
Best Achievement in Cinematography
Nominees:
Changeling (2008): Tom Stern
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Claudio Miranda
The Dark Knight (2008): Wally Pfister
The Reader (2008): Roger Deakins, Chris Menges
Slumdog Millionaire (2008): Anthony Dod Mantle
Best Achievement in Editing
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Angus Wall, Kirk Baxter
The Dark Knight (2008): Lee Smith
Frost/Nixon (2008): Daniel P. Hanley, Mike Hill
Milk (2008): Elliot Graham
Slumdog Millionaire (2008): Chris Dickens
Best Achievement in Art Direction
Nominees:
Changeling (2008): James J. Murakami, Gary Fettis
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Donald Graham Burt, Victor J. Zolfo
The Dark Knight (2008): Nathan Crowley, Peter Lando
The Duchess (2008): Michael Carlin, Rebecca Alleway
Revolutionary Road (2008): Kristi Zea, Debra Schutt
Best Achievement in Costume Design
Nominees:
Australia (2008): Catherine Martin
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Jacqueline West
The Duchess (2008): Michael O'Connor
Milk (2008): Danny Glicker
Revolutionary Road (2008): Albert Wolsky
Best Achievement in Makeup
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Greg Cannom
The Dark Knight (2008): John Caglione Jr., Conor O'Sullivan
Hellboy II: The Golden Army (2008): Mike Elizalde, Thomas Floutz
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Alexandre Desplat
Defiance (2008): James Newton Howard
Milk (2008): Danny Elfman
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman
WALL•E (2008): Thomas Newman
Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song
Nominees:
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman, Gulzar("Jai Ho")
Slumdog Millionaire (2008): A.R. Rahman, Maya Arulpragasam("O Saya")
WALL•E (2008): Peter Gabriel, Thomas Newman("Down to Earth")
Best Achievement in Sound
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): David Parker, Michael Semanick, Ren Klyce, Mark Weingarten
The Dark Knight (2008): Ed Novick, Lora Hirschberg, Gary Rizzo
Slumdog Millionaire (2008): Ian Tapp, Richard Pryke, Resul Pookutty
WALL•E (2008): Tom Myers, Michael Semanick, Ben Burtt
Wanted (2008): Chris Jenkins, Frank A. Montaño, Petr Forejt
Best Achievement in Sound Editing
Nominees:
The Dark Knight (2008): Richard King
Iron Man (2008): Frank E. Eulner, Christopher Boyes
Slumdog Millionaire (2008): Tom Sayers
WALL•E (2008): Ben Burtt, Matthew Wood
Wanted (2008): Wylie Stateman
Best Achievement in Visual Effects
Nominees:
The Curious Case of Benjamin Button (2008): Eric Barba, Steve Preeg, Burt Dalton, Craig Barron
The Dark Knight (2008): Nick Davis, Chris Corbould, Timothy Webber, Paul J. Franklin
Iron Man (2008): John Nelson, Ben Snow, Daniel Sudick, Shane Mahan
Best Animated Feature Film of the Year
Nominees:
Bolt (2008): Chris Williams, Byron Howard
Kung Fu Panda (2008): John Stevenson, Mark Osborne
WALL•E (2008): Andrew Stanton
Best Foreign Language Film of the Year
Nominees:
Der Baader Meinhof Komplex (2008)(Germany)
Entre les murs (2008)(France)
Revanche (2008)(Austria)
Okuribito (2008)(Japan)
Vals Im Bashir (2008)(Israel)
Best Documentary, Features
Nominees:
The Betrayal - Nerakhoon (2008): Ellen Kuras, Thavisouk Phrasavath
Encounters at the End of the World (2007): Werner Herzog, Henry Kaiser
The Garden (2008/I): Scott Hamilton Kennedy
Man on Wire (2008): James Marsh, Simon Chinn
Trouble the Water (2008): Tia Lessin, Carl Deal
Best Documentary, Short Subjects
Nominees:
Conscience of Nhem En, The (2008): Steven Okazaki
Final Inch, The (2008): Irene Taylor Brodsky, Tom Grant
Smile Pinki (2008): Megan Mylan
Witness from the Balcony of Room 306, The (2008): Adam Pertofsky, Margaret Hyde
Best Short Film, Animated
Nominees:
La Maison en Petits Cubes: Kunio Kato
Ubornaya istoriya - lyubovnaya istoriya (2007): Konstantin Bronzit
Oktapodi (2007): Emud Mokhberi, Thierry Marchand
Presto (2008): Doug Sweetland
This Way Up (2008): Alan Smith, Adam Foulkes
Best Short Film, Live Action
Nominees:
Auf der Strecke (2007): Reto Caffi
Manon sur le bitume (2007): Elizabeth Marre, Olivier Pont
New Boy (2007): Steph Green, Tamara Anghie
Grisen (2008): Tivi Magnusson, Dorthe Warnø Høgh
Spielzeugland (2007): Jochen Alexander Freydank
Kamis, 15 Januari 2009
Once, In A Good Year, There Will Be Blood........
GOOD,..THERE WILL BE BLOOD…..!!
Ada dua alasan yang membuat A Good Year patut direkomendasikan dalam daftar tonton. Alasan pertama adalah bersatunya kembali sutradara dan pemain utama Gladiator. Di film bergenre drama romantis inilah Ridley Scott dan Russell Crowe kembali bekerja sama untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya mensukseskan Gladiator di panggung oscar dan di kancah box office. Dan kelak keduanya akan kembali bekerja sama sebanyak empat kali. Tulisan ini tidak membahas tentang American Gangster ataupun Body of Lies yang bakal tayang di akhir tahun 2008, akan tetapi akan sedikit mengupas tentang film drama yang diangkat dari sebuah novel tersebut. Alasan kedua adalah kehadiran Marion Cotillard, aktris cantik asal Perancis yang mendadak menjadi sorotan setelah meraih oscar lewat La Vie en Rose beberapa waktu lalu. Memang saya belum menyimak La Vie en Rose, tapi melihat kiprah Cotillard dalam A Good Year, rasa-rasanya Cotillard memang pantas menyingkirkan favorit utama Julie Christie dalam perebutan gelar best actress. Dengan logat perancis khasnya didukung parasnya yang memang benar-benar sangat mempesona, sosok Edith Piaf, penyanyi legendaries asal Negara Eiffel yang meninggal saat kariernya sedang naik daun itu berhasil dihidupkan oleh Cotillard dengan dibantu oleh dukungan make-up jempolan yang juga diganjar piala oscar.
Dikisahkan seorang bankir kharismatik Maximillan Skinner mendadak harus kembali ke kampung halamannya setelah ia mendapat wasiat warisan seluruh peninggalan pamannya, Henry Skinner yang diperankan oleh Albert Finney, beserta kebun anggur miliknya. Max, yang seorang workaholic harus membiasakan tinggal di ‘istana’ pamannya yang megah dengan kehidupan yang jauh dari rutinitasnya. Saat max bertemu dengan Christie, anak hasil hubungan Henry dengan seorang wanita asal Amerika keinginan Max untuk menjual seluruh peninggalan pamannya beserta kebun anggur miliknya, tiba-tiba mendapat gejolak. Begitu pula saat Max bertemu dengan Shelby, seorang pramusaji jelita yang diperankan oleh Cotillard. Jadilah A Good Year sebuah tontonan ringan dengan Russell Crowe dan Ridley Scott sebagai dagangan utamanya. Tetapi malahan justru Marion Cotillard lah yang menjadi daya pikat utama dalam film yang sebetulnya terkesan membosankan ini. Pesona wajah dan aksen Perancisnya benar-benar mampu meluluhkan hati Max yang seorang pekerja keras dan juga para penonton pada umumnya.
Secara keseluruhan A Good Year tidak buruk-buruk amat, tapi jika kita melihat siapa sutradaranya, sepertinya film yang juga dibintangi actor masa depan Freddie Highmore ini sangat standar sekali. Bagaimana mungkin sutradara penghasil tontonan-tontonan bermutu seperti Alien, Blade Runner, dan Kingdom of Heaven ini membuat film yang sangat dangkal di segala aspek dan cenderung mudah dilupakan. Beruntung sekali para pemainnya mampu menyuguhkan porsi yang pas dan memikat. Selain Cotillard dan Highmore yang atraktif, permainan acting Abbie Cornish sebagai Christie juga lumayan kendati masih di bawah bayang-bayang Finney yang memerankan dua karakter yang berbeda. Permainan actor veteran ini mengingatkan akan kiprahnya dalam Big Fish yang juga tidak dapat dikatakan jelek. Russell Crowe,…??? Wah, sepertinya bayang bayang Maximus sang Gladiator belum dapat lepas dari actor Aussie ini. Mudah-mudahan dalam Body of Lies, setidaknya performa memukaunya seperti yang ia tamplkan dalam American Gangster minimal dapat dipertahankan.
Bicara tentang performa memukau, Daniel Day-Lewis benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan actingya yang prima lewat There Will Be Blood. Sehingga tak segan-segan pihak Academy Awards mengganjarya piala oscar untuk yang kedua kali lewat perannya sebagai pengusaha minyak ambisius yang punya perusahaan pengeboran sendiri dalam film garapan Paul Thomas Anderson tersebut. Penampilan acting actor veteran asal Inggris itu benar-benar mendominasi dan menjadi nyawa keseluruhan dari There Will Be Blood. Jika Anda bukanlah seorang penggemar film, ataupun seorang maniac film yang belum mengenal siapa Day-Lewis. Setelah menyaksikan film panjang berdurasi hampir tiga jam ini, dipastikan Anda akan kagum dengan actor watak yang satu ini. Kharismnya tidak kalah seperti yang ia tampilkan dalam Gangs of New York ataupun My Left Foot yang memberinya piala oscar pertama Ada dua scene yang benar-benar membuat saya pribadi kagum dengan kapabilitas aktingnya, yakni saat Daniel menghajar pastor muda yang diperankan juga dengan apik oleh Paul Dano. Mimic, ekspresi, serta tingkah polahnya sangat mendukung bahwa ia adalah seorang actor watak jempolan yang sudah sangat teruji kualitas actingnya. Mungkin Anda harus menyaksikan salah satu peran luar biasa sebuah karakter sepanjang sejarah dalam film ini……..
Tapi acting luar biasa dari pemain The Last of Mohicans ini dimentahkan oleh Javier Bardem dalam No Country For Old Man. Best picture oscar malah didapat oleh film garapan Coen Brothers tersebut. Meskipun There Will Blood lebih bertenaga di segi penggarapan, namun No Country juga lebih membumi dari segi naskah cerita yang lebih universal. Dunia kriminalitas yang getir dikisahkan lewat tiga karakter kuatnya yang saling berhubungan. Josh Brolin semakin matang aja aktingnya dan segera menjelma menjadi actor watak berkelas. Buktinya, actor yang juga main dalam American Gangster ini segera diplot Oliver Stone untuk menjadi George W Bush dalam W. Sayangnya saya belum menyimak kiprahnya dalam film semibiografi tersebut. Sedangkan Tommy Lee-Jones, meskipun porsinya tidak terlalu besar, namun perannya disitu juga penting sekaligus menjelaskan arti judul ‘No Country For Oldman’ sendiri.
Bakat adalah sebuah karunia Tuhan yang diberikan secara khusus kepada makhluk-Nya semenjak ia dilahirkan ke dunia. Kadang bakat kerap sekali dikaitkan dengan hobby dan skill seseorang. Lebih jauh lagi, bakat lah yang kadang menuntun seseorang menuju tangga kesuksesan. Once menjadi contoh bagi seseorang untuk mencari karier yang sesuai dengan ‘gift’ pemberian Tuhan-Nya. Dalam film tersebut diceritakan tentang seorang pria dengan kegemaran dan bakat bermain gitarnya merintis karier agar menjadi terkenal. Meskipun dia anak seorang pen’service’ vacuum cleaner yang sederhana, namun keahliannya dalam memetik gitar hampir menyamai para pemain gitar professional. Dengan lagu-lagu yang dikarangnya sendiri, beserta gitar butut kesayangannya, ia mulai mengalunkan suaranya di berbagai penjuru kota Dublin sambil mengharap beberapa receh dari orang-orang yang melintas. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang wanita beranak satu yang juga menyukai musik terutama piano yang kemudian mensupport dan mendorongnya agar menjadi penyanyi terkenal. Klise memang, tapi disitulah letak kekuatan film indie asal Irlandia ini. John Carney, sang sutradara menggambarkan perjalanan pria tersebut yang diperankan oleh Glen Hansard dengan cukup ritmis. Mulai dari aktivitasnya mengamen di jalan-jalan, memainkan gitarnya di sela-sela waktu di berbagai tempat, kisah romantis singkatnya dengan wanita yang dimainkan oleh si cantik Marketa Irglova, kolaborasi keduanya, proses rekaman perdananya, hingga rencananya hijrah ke London untuk meniti karier bermusiknya. Meskipun hanya secuil kisah, namun semuanya diceritakan dengan runtut dalam balutan lagu-lagu yang indah disepanjang film.
Seperti halnya Enchanted, Once juga merupakan film musical yang lebih mengutamakan soundtrack-soundtrack indahnya ketimbang plot cerita, penokohan, ataupun hal teknis lainnya. Bedanya, jika filmnya Amy Adams itu lebih komersil dengan mengandalkan Disney sebagai pabriknya, film ini justru tetap ‘pede’ berjalan di jalur indie. Dan memang, film ini bertenaga dengan musik-musiknya yang enak didengar dan membekas. Tercatat setidaknya ada tiga tembang yang bagi saya pribadi benar-benar menyentuh dan indah diantaranya When You’r Mind’s Made Up, If You Want Me, dan Once, yang kesemuanya kebanyakan dinyanyikan secara duet antara Hansard san Irglova. Namun hanya tembang Falling Slowly lah yang terus terang saya putar berulang-ulang setelah menyaksikan filmnya. Sama memorablenya dengan lagu I Need to Wake Up yang merupakan soundtrack film yang meraih best song di ajang oscar., lagu yang juga dibawakan secara duet ini juga meraih best original song di ajang oscar terakhir. Malahan dengan dibawakan secara berdua, lagu yang liriknya dalam ini lebih membuat merinding ketika didengar dan memang sangat pas dan matching dengan inti kisah dalam filmnya yakni tentang pengejaran karier masa depan. Pokoknya dijamin, Anda akan hanyut bersama lantunan suara indah Hansard dan Irglova dalam Falling Slowly ini…..
Ada dua alasan yang membuat A Good Year patut direkomendasikan dalam daftar tonton. Alasan pertama adalah bersatunya kembali sutradara dan pemain utama Gladiator. Di film bergenre drama romantis inilah Ridley Scott dan Russell Crowe kembali bekerja sama untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya mensukseskan Gladiator di panggung oscar dan di kancah box office. Dan kelak keduanya akan kembali bekerja sama sebanyak empat kali. Tulisan ini tidak membahas tentang American Gangster ataupun Body of Lies yang bakal tayang di akhir tahun 2008, akan tetapi akan sedikit mengupas tentang film drama yang diangkat dari sebuah novel tersebut. Alasan kedua adalah kehadiran Marion Cotillard, aktris cantik asal Perancis yang mendadak menjadi sorotan setelah meraih oscar lewat La Vie en Rose beberapa waktu lalu. Memang saya belum menyimak La Vie en Rose, tapi melihat kiprah Cotillard dalam A Good Year, rasa-rasanya Cotillard memang pantas menyingkirkan favorit utama Julie Christie dalam perebutan gelar best actress. Dengan logat perancis khasnya didukung parasnya yang memang benar-benar sangat mempesona, sosok Edith Piaf, penyanyi legendaries asal Negara Eiffel yang meninggal saat kariernya sedang naik daun itu berhasil dihidupkan oleh Cotillard dengan dibantu oleh dukungan make-up jempolan yang juga diganjar piala oscar.
Dikisahkan seorang bankir kharismatik Maximillan Skinner mendadak harus kembali ke kampung halamannya setelah ia mendapat wasiat warisan seluruh peninggalan pamannya, Henry Skinner yang diperankan oleh Albert Finney, beserta kebun anggur miliknya. Max, yang seorang workaholic harus membiasakan tinggal di ‘istana’ pamannya yang megah dengan kehidupan yang jauh dari rutinitasnya. Saat max bertemu dengan Christie, anak hasil hubungan Henry dengan seorang wanita asal Amerika keinginan Max untuk menjual seluruh peninggalan pamannya beserta kebun anggur miliknya, tiba-tiba mendapat gejolak. Begitu pula saat Max bertemu dengan Shelby, seorang pramusaji jelita yang diperankan oleh Cotillard. Jadilah A Good Year sebuah tontonan ringan dengan Russell Crowe dan Ridley Scott sebagai dagangan utamanya. Tetapi malahan justru Marion Cotillard lah yang menjadi daya pikat utama dalam film yang sebetulnya terkesan membosankan ini. Pesona wajah dan aksen Perancisnya benar-benar mampu meluluhkan hati Max yang seorang pekerja keras dan juga para penonton pada umumnya.
Secara keseluruhan A Good Year tidak buruk-buruk amat, tapi jika kita melihat siapa sutradaranya, sepertinya film yang juga dibintangi actor masa depan Freddie Highmore ini sangat standar sekali. Bagaimana mungkin sutradara penghasil tontonan-tontonan bermutu seperti Alien, Blade Runner, dan Kingdom of Heaven ini membuat film yang sangat dangkal di segala aspek dan cenderung mudah dilupakan. Beruntung sekali para pemainnya mampu menyuguhkan porsi yang pas dan memikat. Selain Cotillard dan Highmore yang atraktif, permainan acting Abbie Cornish sebagai Christie juga lumayan kendati masih di bawah bayang-bayang Finney yang memerankan dua karakter yang berbeda. Permainan actor veteran ini mengingatkan akan kiprahnya dalam Big Fish yang juga tidak dapat dikatakan jelek. Russell Crowe,…??? Wah, sepertinya bayang bayang Maximus sang Gladiator belum dapat lepas dari actor Aussie ini. Mudah-mudahan dalam Body of Lies, setidaknya performa memukaunya seperti yang ia tamplkan dalam American Gangster minimal dapat dipertahankan.
Bicara tentang performa memukau, Daniel Day-Lewis benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan actingya yang prima lewat There Will Be Blood. Sehingga tak segan-segan pihak Academy Awards mengganjarya piala oscar untuk yang kedua kali lewat perannya sebagai pengusaha minyak ambisius yang punya perusahaan pengeboran sendiri dalam film garapan Paul Thomas Anderson tersebut. Penampilan acting actor veteran asal Inggris itu benar-benar mendominasi dan menjadi nyawa keseluruhan dari There Will Be Blood. Jika Anda bukanlah seorang penggemar film, ataupun seorang maniac film yang belum mengenal siapa Day-Lewis. Setelah menyaksikan film panjang berdurasi hampir tiga jam ini, dipastikan Anda akan kagum dengan actor watak yang satu ini. Kharismnya tidak kalah seperti yang ia tampilkan dalam Gangs of New York ataupun My Left Foot yang memberinya piala oscar pertama Ada dua scene yang benar-benar membuat saya pribadi kagum dengan kapabilitas aktingnya, yakni saat Daniel menghajar pastor muda yang diperankan juga dengan apik oleh Paul Dano. Mimic, ekspresi, serta tingkah polahnya sangat mendukung bahwa ia adalah seorang actor watak jempolan yang sudah sangat teruji kualitas actingnya. Mungkin Anda harus menyaksikan salah satu peran luar biasa sebuah karakter sepanjang sejarah dalam film ini……..
Tapi acting luar biasa dari pemain The Last of Mohicans ini dimentahkan oleh Javier Bardem dalam No Country For Old Man. Best picture oscar malah didapat oleh film garapan Coen Brothers tersebut. Meskipun There Will Blood lebih bertenaga di segi penggarapan, namun No Country juga lebih membumi dari segi naskah cerita yang lebih universal. Dunia kriminalitas yang getir dikisahkan lewat tiga karakter kuatnya yang saling berhubungan. Josh Brolin semakin matang aja aktingnya dan segera menjelma menjadi actor watak berkelas. Buktinya, actor yang juga main dalam American Gangster ini segera diplot Oliver Stone untuk menjadi George W Bush dalam W. Sayangnya saya belum menyimak kiprahnya dalam film semibiografi tersebut. Sedangkan Tommy Lee-Jones, meskipun porsinya tidak terlalu besar, namun perannya disitu juga penting sekaligus menjelaskan arti judul ‘No Country For Oldman’ sendiri.
Bakat adalah sebuah karunia Tuhan yang diberikan secara khusus kepada makhluk-Nya semenjak ia dilahirkan ke dunia. Kadang bakat kerap sekali dikaitkan dengan hobby dan skill seseorang. Lebih jauh lagi, bakat lah yang kadang menuntun seseorang menuju tangga kesuksesan. Once menjadi contoh bagi seseorang untuk mencari karier yang sesuai dengan ‘gift’ pemberian Tuhan-Nya. Dalam film tersebut diceritakan tentang seorang pria dengan kegemaran dan bakat bermain gitarnya merintis karier agar menjadi terkenal. Meskipun dia anak seorang pen’service’ vacuum cleaner yang sederhana, namun keahliannya dalam memetik gitar hampir menyamai para pemain gitar professional. Dengan lagu-lagu yang dikarangnya sendiri, beserta gitar butut kesayangannya, ia mulai mengalunkan suaranya di berbagai penjuru kota Dublin sambil mengharap beberapa receh dari orang-orang yang melintas. Hingga pada suatu hari ia bertemu dengan seorang wanita beranak satu yang juga menyukai musik terutama piano yang kemudian mensupport dan mendorongnya agar menjadi penyanyi terkenal. Klise memang, tapi disitulah letak kekuatan film indie asal Irlandia ini. John Carney, sang sutradara menggambarkan perjalanan pria tersebut yang diperankan oleh Glen Hansard dengan cukup ritmis. Mulai dari aktivitasnya mengamen di jalan-jalan, memainkan gitarnya di sela-sela waktu di berbagai tempat, kisah romantis singkatnya dengan wanita yang dimainkan oleh si cantik Marketa Irglova, kolaborasi keduanya, proses rekaman perdananya, hingga rencananya hijrah ke London untuk meniti karier bermusiknya. Meskipun hanya secuil kisah, namun semuanya diceritakan dengan runtut dalam balutan lagu-lagu yang indah disepanjang film.
Seperti halnya Enchanted, Once juga merupakan film musical yang lebih mengutamakan soundtrack-soundtrack indahnya ketimbang plot cerita, penokohan, ataupun hal teknis lainnya. Bedanya, jika filmnya Amy Adams itu lebih komersil dengan mengandalkan Disney sebagai pabriknya, film ini justru tetap ‘pede’ berjalan di jalur indie. Dan memang, film ini bertenaga dengan musik-musiknya yang enak didengar dan membekas. Tercatat setidaknya ada tiga tembang yang bagi saya pribadi benar-benar menyentuh dan indah diantaranya When You’r Mind’s Made Up, If You Want Me, dan Once, yang kesemuanya kebanyakan dinyanyikan secara duet antara Hansard san Irglova. Namun hanya tembang Falling Slowly lah yang terus terang saya putar berulang-ulang setelah menyaksikan filmnya. Sama memorablenya dengan lagu I Need to Wake Up yang merupakan soundtrack film yang meraih best song di ajang oscar., lagu yang juga dibawakan secara duet ini juga meraih best original song di ajang oscar terakhir. Malahan dengan dibawakan secara berdua, lagu yang liriknya dalam ini lebih membuat merinding ketika didengar dan memang sangat pas dan matching dengan inti kisah dalam filmnya yakni tentang pengejaran karier masa depan. Pokoknya dijamin, Anda akan hanyut bersama lantunan suara indah Hansard dan Irglova dalam Falling Slowly ini…..
2008 : A Hero's Explorer
The Incredible Dark Knight on the Iron Mask
Sudah seperti rutinitas tahunan, Hollywood selalu saja memproduksi film-film bergenre superhero tiap tahun. Jika di beberapa tahun lalu Spider-Man 3 mementahkan ekspektasi yang terlalu berlebihan, dan X-Men : The Last Stand yang berklimaks tragis, maka di tahun depan sang Wolverine akan kembali lewat X-Men Origins : Wolverine. Melihat judulnya saja, kita bakalan tahu bahwa bukan tidak mungkin mutan-mutan didikan Profesor Xavier tersebut akan muncul satu persatu beberapa tahun ke depan. Jika proyek asal muasal Wolverine itu sukses, maka judul-judul seperti X-Men Origins : Storm, Dark Phoenix, Cyclops, atau bahkan Rogue bakal menghiasi situs-situs film beberapa tahun mendatang. Belum lagi judul-judul pendatang baru seperti Aquaman, The Flash, Captain America, dan Wonderwoman misalnya, sudah mulai banyak beritanya. Jadi, film bergenre superhero sudah seperti kewajiban untuk dimunculkan tiap tahun.
Nah, di tahun 2008 ini, tak tanggung-tanggung tiga icon superhero sekaligus muncul menghiasi layar-layar bioskop. Marvel yang memang sudah terkenal dengan tokoh-tokoh komiknya yang sukses di angkat ke layar lebar, segera mencuri start dengan merilis Iron Man lebih dulu. Dipenuhi bintang-binang kelas oscar, sebenarnya film garapan Jon Favreau ini punya banyak harapan untuk menjadi box office hit. Tapi penggarapan Jon Favrau dalam memperkenalkan sang hero terkesan lamban dan cenderung childish. Mungkin Favreau ingin meniru Christopher Nolan saat mengenelakan jati diri dan asal usul Batman dalam Batman Begins. Tetapi terlalu datar dan dangkalnya plot cerita membuat penonton seperti dianggap terlalu bodoh untuk mengetahui dari mana dan bagaimana Tony Stark berubah menjadi seorang Iron Man. Jelas, Favreau belum bisa melepaskan image nya saat menggarap Elf yang memang ringan dan fun. Namun, Elf dan Iron Man adalah dua genre yang sangat berbeda, dan penunjukkan nama Jon Favraeau mungkin perlu ditinjau kembali jikalau akan dibuat sekuelnya kelak. Robert Downey Jr. sendiri tampil cukup pas dengan sosok sang superheronya sendiri. Wajah, mimic, ekspresi, dan tingkah lakunya saat menggambarkan Tony Stark yang playboy, doyan pesta, dan tergolong ‘bad guy’ ini mengkin menjadi daya tarik utama dari filmnya yang apabila akan dibuatkan sekuelnya nanti, Samuel L Jackson dipastikan akan muncul. Gweyneth Paltrow nyata menjadi nilai tambah bagi sang pahlawan ber’pakaian’ besi ini. Bintang peraih oscar ini masih saja kelihatan segar dan cantik meskipun usianya sudah senja. Dan perpaduan antara Downey Jr. dengan Paltrow juga tidak terlalu buruk. Hanya saja porsi Paltrow kurang banyak karena memang filmnya lebih menitikberatkan pada karakter sentralnya, sang Iron Man. Sedangkan Kurt Russell,…?? Ammpuuunnn….., jelek banget dia di sini. Kepala plontos yang dipadukan dengan jenggot tipis lebih terkesan sebagai seorang dosen ketimbang seorang kriminalis. Dan Terence Howard,…??... Ya, sejak Crash dan Hustle and Flow, mungkin kemampuan acting dari actor kulit hitam ini memang hanya sampai sebatas ini. Tidak terlalu berlebihan, namun juga tidak terlalu buruk-buruk amat. Bagi anak-anak, Iron Man mungkin terlalu membosankan akibat adanya dialog-dialog yang panjang dan melelahkan, dan bagi penonton dewasa, juga sangat menjemukan dengan naskah cerita yang dangkal dan terlalu linear. Visual effectnya,..?? tidak terlalu buruk tapi juga kelewat mewah, untuk ukuran film yang lebih mengutamakan dramalurgi ketimbang adegan aksi semata.
Jika Iron Man, mewakili film hero yang membuat kantuk, maka The Incredible Hulk muncul untuk mengimbanginya. Sebenarnya cukup konyol juga karena belum genap lima tahun, kita sudah harus memilih dua versi Hulk yang sayangnya dari keduanya, ( maaf harus saya katakana ) terbilang buruk dan mengecewakan. Di tangan Ang Lee, Hulk pertama yang dirilis tahun 2004, terlalu mendayu-dayu, atau kalau kata anak gaulnya ‘cemen’. Kita dituntu untuk mau menyelami psikologis dari sosok Bruce Banner untuk dapat menikmati filmnya. Berhasil…?? Jelas tidak. Ayolah, … ini adalah film Hulk, sosok manusia hijau berkekuatan besar yang liar, ganas, dan emosional. Namun di tangan sutradara Brokeback Mountain ini, Hulk malah jadi sosok yang mellow dan sweet. Meskipun ada dua pendapat yang berbeda tentang penilaian terhadap Hulk versi Eric Bana ini, namun saya tetap men’judge’ bahwa Hulk buatan Ang Lee ini termasuk produk gagal. Sayangnya Hulk terbaru yang mendapat tambahan judul The Incrdible Hulk malah labih parah lagi. Louis Letenner mungkin ingin menjadi oposisis penentang Ang Lee dalam memvisualisasikan monster yang berubah jadi ganas dan mengerikan saat lepas control ini. Edward Norton yang kabarnya ngebet ingin mendapat peran ini, juga belum bisa berbuat banyak akibat lemahnya script yang ditawarkan. Ya. Hulk terbaru ini tak ubahnya sebagai tontonan anak-anak kecil seusai belajar. Naskah yang sangat ringan dan predictable dengan hingar-bingar adegan-adegan aksi yang berisik dan crowded, jelas menjadi favorit adik-adik kecil kita. Penggambaran Hulk yang dibuat lebih garang dan bringas, tanpa dibarengi kisah yang kuat, jelas bukan film Hulk yang berhasil. Mungkin Stephen Spielberg harus turun tangan, agar ke depan sudah tidak ada lagi monster hijau raksasa wira-wiri memenuhi layer bioskop. Memang dibandingkan Eric Bana, Edward Norton cukup cocok lah untuk berubah menjadi monster pemarah tersebut, apalagi jika melihat face nya yang juga gak terlalu manis. Namun, bodynya tetap belum bisa mendukung sosok seorang Hulk. Come on,… Norton is too ‘small’ to be the incredible hulk. Ini diperparah lagi dengan hadirnya Liv Tyler sebagai ‘Hulk girl’. Sosok Liv Tyler jelas sekali terasa mengganggu dan terkesan bingung dengan porsinya yang tidak jelas dan serba tanggung. Mungkin Jennifer Connely lebih pas untuk peran yang sama.
Tapi semuanya mendadak berubah saat saya pertama kali menyimak The Dark Knight. Film Batman yang merupakan sekuel langsung dari Batman Begins yang dirilis sekitar tahun 2006 ini benar-benar terus membekas dalam memori saya. Bukan karena adegan-adegan visual effectnya, bukan karena dramalurginya, dan bukan pula karena sosok hero nya sendiri. Saya benar-benar takjub dan terkesan dengan The Dark Knight secara keseluruhannya. Di sekuel pertamnya ini, sang sutradara Christopher Nolan menetapkan standar yang super tinggi untuk film bergenre superhero movie. Hal yang sama mungkin dulu juga sempat dilakukan oleh Peter Jackson ketiga menggarap trilogy The Lord of The Rings dengan segala kesempurnaan aspeknya. Di genre epic-adventure, film berdurasi panjang itu belum ada yang mampu mengalahkan atau bahkan minimalnya menyamai kualitasnya. Dua jilid The Chronicles of Narnia, Eragorn, The Golden Compass, atau film-film sejenis yang lainnya, jelas-jelas hanya mencoba berusaha untuk mengikuti kesuksesan luar biasa film ansamble-cast tersebut dengan hasil yang jauh dari harapan. Dan kali ini Christopher Nolan, yang memang sudah cukup dikenal dengan film-film berat dan cenderung njlimetnya itu melakukan hal yang sama terhadap The Dark Knight. Film superhero yang umumnya dibuat ringan, ‘rame’, dan benuh adegan-adegan aksi super seru, menjadi terasa lain saat menyaksikan The Dark Knight ini. Bahkan Spider-Man 2 yang sebelumnya saya favoritkan sebagai tontonan adaptasi komik favorit, harus mengakui keunggulan ikon nya DC Comics ini. Sejak dari Batman Begins pun sudah mulai tampak apa yang bakal dihadirkan Nolan lewat pahlawan berkostum gelap berlogo kelelawar ini. Di jajaran cast nya pun, gak sembarangan. Dua peraih oscar dan tiga nominator oscar diplot sebagai ‘rekan-rekan’ Christian Bale dalam Batman Begins. Sementara dalam The Dark Knight, dua nominator sebelumnya, Ken Watanabe dan Liam Neeson harus digantikan porsinya oleh actor watak muda yang juga pernah dinominasikan sebagai best actor, yang sayangnya tidak dapat menikmati hasil luar biasa dari filmnya sendiri. Plot nya sendiri memang dibuat dengan cukup rumit oleh dua bersaudara Christopher Nolan dan Jonathan Nolan. Ini ditambah dengan banyaknya twist yang muncul di sepanjang film, yang mungkin menjadikan penonton harus berkonsentrasi penuh untuk mengikuti jalan ceritanya dari alurnya yang juga berjalan dengan cepat. Jika tidak, jangan heran nanti Anda akan terbengong-bengong di adegan selanjutnya. Seperti halnya film sebelumnya, The Dark Knight juga masih mengandalkan kata ‘dark’, dengan menampilan setting cerita yang gelap dan tidak linear. Adegan saat Jim Gordon menggerebek rumah Wuertz yang digabungkan dengan adegan pesta di kediaman Bruce Wayne dan adegan seorang ibu membawa amplop memasuki mobil, menjadi salah satu hasil editing terbaik dan menghasilkan rasa penasaran yang tinggi bagi penontonnya. Jadi jika nanti ada nama Lee Smith di jajaran nominator oscar tahun 2009 untuk kategori Best Editing jangan kaget karena apa yang dilakukannya tersebut memang pantas dihargai. Begitu pula jika dua composer kondang James Newton Howard dan Hans Zimmer absent dari percaturan nominator Best Original Score. Aransemen musik yang ditata dengan apik oleh dua composer kawakan tersebut juga terdengar nendang di telinga sekaligus menjadi poin selanjutnya dari film yang kabarnya berada satu tingkat di bawah Titanic untuk perolehan box officenya secara Domestic ( baca : untuk wilayah Amerika Utara dan Kanada saja ). Selain storytelling yang brilyan, ada satu lagi keunggulan dari The Dark Knight yang tak lain adalah top of the top nya. Siapa lagi jika bukan alm. Heath Ledger dengan perannya sebagai Joker terbaru. Mimic, gerak-gerik, ekspresi, dan tingkah polahnya memang tidak seperti Joker sebelumnya yang juga sukses dimainkan oleh Jack Nicholson. Tapi jangan salah, dukungan make up jempolan yang dihiaskan ke wajah actor watak muda ini membuat sang Joker lebih terlihat sadis, mengerikan, dan sedikit ‘tolol’. I am the agent of Chaos, salah satu quote nya dalam film tersebut, benar-benar terepresentasikan saat dengan kocak dan tololnya sang Joker meledakkan seluruh bangunan rumah sakit yang besar dengan sebuah remote sambil berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut. Lucu, konyol, dan mengerikan. Gambaran sosok badut penebar terror nyata-nyata dapat dimunculkan oleh actor yang meninggal karena over dosisi ini. Sedangkan cast yang lain juga tidak terlalu buruk dan tampil maksimal sesuai porsinya masing-masing. Michael Caine dengan santai dan kharismatiknya, masih menjadi Alfred, ajudan setianya Bruce Wayne. Morgan Freeman yang berperan sebagai Lucius Fox, seperti biasa selalu tidak mengecewakan di setiap filmnya dan selalu terpancar aura ke ‘aktor’annya. Garry Oldman yang sempat membuat ‘pangling’ dalam Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, malah semakin besar porsinya di sini dan tetap tampil mengesankan sebagai James Gordon, rekan setia Batman di dunia kepolisian. Porsinya hampir sama dengan Aaron Eackhart, jaksa gotham city yang dicalokan sebagai walikota. Eackhart sendiri meskipun menjadi karakter yang penting dalam The Dark Knight, tetap saja seorang actor biasa yang mungkin sudah tidak dapat lagi meningkatkan skill aktingnya. Tetap stabil dan konsisten seperti saat ia bermain dalam film indie terbaik, Thank You For Smoking. Dan hanya Maggie Gyllenhall saja yang kurang greget. Sebagai seorang wanita yang punya kedudukan penting dalam film ini, pemilihan actress pendukung World Trade Centre ini rasanya kurang pas untuk menggantikan Katie Holmes sebagai Rachel Dawes. Kemunculannya juga terasa sedikit mengganggu kendatipun ia menjadii alasan utama kemunculan Two Face. Namun melihat aktingnya yang standard dan parasnya yang jujur saja ( maaf,..) kurang ayu, jelas menjadi sedikit masalah yang sedikit mengganjal. Bagaimana dengan sang Batman sendiri…..?? Christian Bale benar-benar sedang mencapai puncaknya saat ini dengan peran terbaik sepanjang kariernya. Tubuhnya yang semakin atletis terlihat lebih macho saat ia mengendarai sebuah motor balap gede ducati di sebuah scene.
But, overall film ini benar-benar terasa sekali kualitasnya sebagai sajian tontonan yang menghibur dan bermutu dengan kandungan yang lumayan berat. Berat banget untuk ukuran film adaptasi komik, dan juga tinggi sekali untuk standar sebuah film superhero. Mungkin beberapa sutradara harus berpikir jika hendak mengangkat ikon komik ke dunia film. The Dark Knight harus dijadikan refleksif yang mendalam jika tidak ingin filmnya nanti dicerca dan dihujani kritikan pedas. Bahkan setelah menyaksikan The Dark Knight, Iron Man dan The Incredible Hulk bak tontonan anak-anak TK yang sangat terlihat ke’garing’annya. Jelas ini adalah tahunnya DC comics setelah beberapa tahun sebelumnya icon-icon mereka kalah tenar dan popular dibandingkan ikonnya Marvel yang telah mendapat tempat d hati public seperti Spider-Man dan X-Men misalnya. Jika mau dibuat sekuel keduanya pun ( dan saya harap semoga saja tidak ada rencana ke situ ), tantangan terbesar selain memunculkan kualitas yang minimal sama dengan The Dark Knight, juga sulitnya mencari peran yang layak menggantikan Heath Ledger sebagai sang Joker.
Comparations Iron Man The Incredible Hulk The Dark Knight
1. The Hero 8/10 7/10 8/10
2. Man Behind The Hero 8/10 7.5/10 8/10
3. Hero’s Girl 8.5/10 6/10 7.5/10
4. Plot 7/10 6.5/10 8.5/10
5. Special Effect 8/10 8/10 7.5/10
6. Directoral 6/10 6/10 8/10
7. Technist 7/10 6/10 8/10
8. Ending 7.5/10 7/10 8/10
9. Overal 8/10 7/10 9/10
Sudah seperti rutinitas tahunan, Hollywood selalu saja memproduksi film-film bergenre superhero tiap tahun. Jika di beberapa tahun lalu Spider-Man 3 mementahkan ekspektasi yang terlalu berlebihan, dan X-Men : The Last Stand yang berklimaks tragis, maka di tahun depan sang Wolverine akan kembali lewat X-Men Origins : Wolverine. Melihat judulnya saja, kita bakalan tahu bahwa bukan tidak mungkin mutan-mutan didikan Profesor Xavier tersebut akan muncul satu persatu beberapa tahun ke depan. Jika proyek asal muasal Wolverine itu sukses, maka judul-judul seperti X-Men Origins : Storm, Dark Phoenix, Cyclops, atau bahkan Rogue bakal menghiasi situs-situs film beberapa tahun mendatang. Belum lagi judul-judul pendatang baru seperti Aquaman, The Flash, Captain America, dan Wonderwoman misalnya, sudah mulai banyak beritanya. Jadi, film bergenre superhero sudah seperti kewajiban untuk dimunculkan tiap tahun.
Nah, di tahun 2008 ini, tak tanggung-tanggung tiga icon superhero sekaligus muncul menghiasi layar-layar bioskop. Marvel yang memang sudah terkenal dengan tokoh-tokoh komiknya yang sukses di angkat ke layar lebar, segera mencuri start dengan merilis Iron Man lebih dulu. Dipenuhi bintang-binang kelas oscar, sebenarnya film garapan Jon Favreau ini punya banyak harapan untuk menjadi box office hit. Tapi penggarapan Jon Favrau dalam memperkenalkan sang hero terkesan lamban dan cenderung childish. Mungkin Favreau ingin meniru Christopher Nolan saat mengenelakan jati diri dan asal usul Batman dalam Batman Begins. Tetapi terlalu datar dan dangkalnya plot cerita membuat penonton seperti dianggap terlalu bodoh untuk mengetahui dari mana dan bagaimana Tony Stark berubah menjadi seorang Iron Man. Jelas, Favreau belum bisa melepaskan image nya saat menggarap Elf yang memang ringan dan fun. Namun, Elf dan Iron Man adalah dua genre yang sangat berbeda, dan penunjukkan nama Jon Favraeau mungkin perlu ditinjau kembali jikalau akan dibuat sekuelnya kelak. Robert Downey Jr. sendiri tampil cukup pas dengan sosok sang superheronya sendiri. Wajah, mimic, ekspresi, dan tingkah lakunya saat menggambarkan Tony Stark yang playboy, doyan pesta, dan tergolong ‘bad guy’ ini mengkin menjadi daya tarik utama dari filmnya yang apabila akan dibuatkan sekuelnya nanti, Samuel L Jackson dipastikan akan muncul. Gweyneth Paltrow nyata menjadi nilai tambah bagi sang pahlawan ber’pakaian’ besi ini. Bintang peraih oscar ini masih saja kelihatan segar dan cantik meskipun usianya sudah senja. Dan perpaduan antara Downey Jr. dengan Paltrow juga tidak terlalu buruk. Hanya saja porsi Paltrow kurang banyak karena memang filmnya lebih menitikberatkan pada karakter sentralnya, sang Iron Man. Sedangkan Kurt Russell,…?? Ammpuuunnn….., jelek banget dia di sini. Kepala plontos yang dipadukan dengan jenggot tipis lebih terkesan sebagai seorang dosen ketimbang seorang kriminalis. Dan Terence Howard,…??... Ya, sejak Crash dan Hustle and Flow, mungkin kemampuan acting dari actor kulit hitam ini memang hanya sampai sebatas ini. Tidak terlalu berlebihan, namun juga tidak terlalu buruk-buruk amat. Bagi anak-anak, Iron Man mungkin terlalu membosankan akibat adanya dialog-dialog yang panjang dan melelahkan, dan bagi penonton dewasa, juga sangat menjemukan dengan naskah cerita yang dangkal dan terlalu linear. Visual effectnya,..?? tidak terlalu buruk tapi juga kelewat mewah, untuk ukuran film yang lebih mengutamakan dramalurgi ketimbang adegan aksi semata.
Jika Iron Man, mewakili film hero yang membuat kantuk, maka The Incredible Hulk muncul untuk mengimbanginya. Sebenarnya cukup konyol juga karena belum genap lima tahun, kita sudah harus memilih dua versi Hulk yang sayangnya dari keduanya, ( maaf harus saya katakana ) terbilang buruk dan mengecewakan. Di tangan Ang Lee, Hulk pertama yang dirilis tahun 2004, terlalu mendayu-dayu, atau kalau kata anak gaulnya ‘cemen’. Kita dituntu untuk mau menyelami psikologis dari sosok Bruce Banner untuk dapat menikmati filmnya. Berhasil…?? Jelas tidak. Ayolah, … ini adalah film Hulk, sosok manusia hijau berkekuatan besar yang liar, ganas, dan emosional. Namun di tangan sutradara Brokeback Mountain ini, Hulk malah jadi sosok yang mellow dan sweet. Meskipun ada dua pendapat yang berbeda tentang penilaian terhadap Hulk versi Eric Bana ini, namun saya tetap men’judge’ bahwa Hulk buatan Ang Lee ini termasuk produk gagal. Sayangnya Hulk terbaru yang mendapat tambahan judul The Incrdible Hulk malah labih parah lagi. Louis Letenner mungkin ingin menjadi oposisis penentang Ang Lee dalam memvisualisasikan monster yang berubah jadi ganas dan mengerikan saat lepas control ini. Edward Norton yang kabarnya ngebet ingin mendapat peran ini, juga belum bisa berbuat banyak akibat lemahnya script yang ditawarkan. Ya. Hulk terbaru ini tak ubahnya sebagai tontonan anak-anak kecil seusai belajar. Naskah yang sangat ringan dan predictable dengan hingar-bingar adegan-adegan aksi yang berisik dan crowded, jelas menjadi favorit adik-adik kecil kita. Penggambaran Hulk yang dibuat lebih garang dan bringas, tanpa dibarengi kisah yang kuat, jelas bukan film Hulk yang berhasil. Mungkin Stephen Spielberg harus turun tangan, agar ke depan sudah tidak ada lagi monster hijau raksasa wira-wiri memenuhi layer bioskop. Memang dibandingkan Eric Bana, Edward Norton cukup cocok lah untuk berubah menjadi monster pemarah tersebut, apalagi jika melihat face nya yang juga gak terlalu manis. Namun, bodynya tetap belum bisa mendukung sosok seorang Hulk. Come on,… Norton is too ‘small’ to be the incredible hulk. Ini diperparah lagi dengan hadirnya Liv Tyler sebagai ‘Hulk girl’. Sosok Liv Tyler jelas sekali terasa mengganggu dan terkesan bingung dengan porsinya yang tidak jelas dan serba tanggung. Mungkin Jennifer Connely lebih pas untuk peran yang sama.
Tapi semuanya mendadak berubah saat saya pertama kali menyimak The Dark Knight. Film Batman yang merupakan sekuel langsung dari Batman Begins yang dirilis sekitar tahun 2006 ini benar-benar terus membekas dalam memori saya. Bukan karena adegan-adegan visual effectnya, bukan karena dramalurginya, dan bukan pula karena sosok hero nya sendiri. Saya benar-benar takjub dan terkesan dengan The Dark Knight secara keseluruhannya. Di sekuel pertamnya ini, sang sutradara Christopher Nolan menetapkan standar yang super tinggi untuk film bergenre superhero movie. Hal yang sama mungkin dulu juga sempat dilakukan oleh Peter Jackson ketiga menggarap trilogy The Lord of The Rings dengan segala kesempurnaan aspeknya. Di genre epic-adventure, film berdurasi panjang itu belum ada yang mampu mengalahkan atau bahkan minimalnya menyamai kualitasnya. Dua jilid The Chronicles of Narnia, Eragorn, The Golden Compass, atau film-film sejenis yang lainnya, jelas-jelas hanya mencoba berusaha untuk mengikuti kesuksesan luar biasa film ansamble-cast tersebut dengan hasil yang jauh dari harapan. Dan kali ini Christopher Nolan, yang memang sudah cukup dikenal dengan film-film berat dan cenderung njlimetnya itu melakukan hal yang sama terhadap The Dark Knight. Film superhero yang umumnya dibuat ringan, ‘rame’, dan benuh adegan-adegan aksi super seru, menjadi terasa lain saat menyaksikan The Dark Knight ini. Bahkan Spider-Man 2 yang sebelumnya saya favoritkan sebagai tontonan adaptasi komik favorit, harus mengakui keunggulan ikon nya DC Comics ini. Sejak dari Batman Begins pun sudah mulai tampak apa yang bakal dihadirkan Nolan lewat pahlawan berkostum gelap berlogo kelelawar ini. Di jajaran cast nya pun, gak sembarangan. Dua peraih oscar dan tiga nominator oscar diplot sebagai ‘rekan-rekan’ Christian Bale dalam Batman Begins. Sementara dalam The Dark Knight, dua nominator sebelumnya, Ken Watanabe dan Liam Neeson harus digantikan porsinya oleh actor watak muda yang juga pernah dinominasikan sebagai best actor, yang sayangnya tidak dapat menikmati hasil luar biasa dari filmnya sendiri. Plot nya sendiri memang dibuat dengan cukup rumit oleh dua bersaudara Christopher Nolan dan Jonathan Nolan. Ini ditambah dengan banyaknya twist yang muncul di sepanjang film, yang mungkin menjadikan penonton harus berkonsentrasi penuh untuk mengikuti jalan ceritanya dari alurnya yang juga berjalan dengan cepat. Jika tidak, jangan heran nanti Anda akan terbengong-bengong di adegan selanjutnya. Seperti halnya film sebelumnya, The Dark Knight juga masih mengandalkan kata ‘dark’, dengan menampilan setting cerita yang gelap dan tidak linear. Adegan saat Jim Gordon menggerebek rumah Wuertz yang digabungkan dengan adegan pesta di kediaman Bruce Wayne dan adegan seorang ibu membawa amplop memasuki mobil, menjadi salah satu hasil editing terbaik dan menghasilkan rasa penasaran yang tinggi bagi penontonnya. Jadi jika nanti ada nama Lee Smith di jajaran nominator oscar tahun 2009 untuk kategori Best Editing jangan kaget karena apa yang dilakukannya tersebut memang pantas dihargai. Begitu pula jika dua composer kondang James Newton Howard dan Hans Zimmer absent dari percaturan nominator Best Original Score. Aransemen musik yang ditata dengan apik oleh dua composer kawakan tersebut juga terdengar nendang di telinga sekaligus menjadi poin selanjutnya dari film yang kabarnya berada satu tingkat di bawah Titanic untuk perolehan box officenya secara Domestic ( baca : untuk wilayah Amerika Utara dan Kanada saja ). Selain storytelling yang brilyan, ada satu lagi keunggulan dari The Dark Knight yang tak lain adalah top of the top nya. Siapa lagi jika bukan alm. Heath Ledger dengan perannya sebagai Joker terbaru. Mimic, gerak-gerik, ekspresi, dan tingkah polahnya memang tidak seperti Joker sebelumnya yang juga sukses dimainkan oleh Jack Nicholson. Tapi jangan salah, dukungan make up jempolan yang dihiaskan ke wajah actor watak muda ini membuat sang Joker lebih terlihat sadis, mengerikan, dan sedikit ‘tolol’. I am the agent of Chaos, salah satu quote nya dalam film tersebut, benar-benar terepresentasikan saat dengan kocak dan tololnya sang Joker meledakkan seluruh bangunan rumah sakit yang besar dengan sebuah remote sambil berjalan meninggalkan rumah sakit tersebut. Lucu, konyol, dan mengerikan. Gambaran sosok badut penebar terror nyata-nyata dapat dimunculkan oleh actor yang meninggal karena over dosisi ini. Sedangkan cast yang lain juga tidak terlalu buruk dan tampil maksimal sesuai porsinya masing-masing. Michael Caine dengan santai dan kharismatiknya, masih menjadi Alfred, ajudan setianya Bruce Wayne. Morgan Freeman yang berperan sebagai Lucius Fox, seperti biasa selalu tidak mengecewakan di setiap filmnya dan selalu terpancar aura ke ‘aktor’annya. Garry Oldman yang sempat membuat ‘pangling’ dalam Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, malah semakin besar porsinya di sini dan tetap tampil mengesankan sebagai James Gordon, rekan setia Batman di dunia kepolisian. Porsinya hampir sama dengan Aaron Eackhart, jaksa gotham city yang dicalokan sebagai walikota. Eackhart sendiri meskipun menjadi karakter yang penting dalam The Dark Knight, tetap saja seorang actor biasa yang mungkin sudah tidak dapat lagi meningkatkan skill aktingnya. Tetap stabil dan konsisten seperti saat ia bermain dalam film indie terbaik, Thank You For Smoking. Dan hanya Maggie Gyllenhall saja yang kurang greget. Sebagai seorang wanita yang punya kedudukan penting dalam film ini, pemilihan actress pendukung World Trade Centre ini rasanya kurang pas untuk menggantikan Katie Holmes sebagai Rachel Dawes. Kemunculannya juga terasa sedikit mengganggu kendatipun ia menjadii alasan utama kemunculan Two Face. Namun melihat aktingnya yang standard dan parasnya yang jujur saja ( maaf,..) kurang ayu, jelas menjadi sedikit masalah yang sedikit mengganjal. Bagaimana dengan sang Batman sendiri…..?? Christian Bale benar-benar sedang mencapai puncaknya saat ini dengan peran terbaik sepanjang kariernya. Tubuhnya yang semakin atletis terlihat lebih macho saat ia mengendarai sebuah motor balap gede ducati di sebuah scene.
But, overall film ini benar-benar terasa sekali kualitasnya sebagai sajian tontonan yang menghibur dan bermutu dengan kandungan yang lumayan berat. Berat banget untuk ukuran film adaptasi komik, dan juga tinggi sekali untuk standar sebuah film superhero. Mungkin beberapa sutradara harus berpikir jika hendak mengangkat ikon komik ke dunia film. The Dark Knight harus dijadikan refleksif yang mendalam jika tidak ingin filmnya nanti dicerca dan dihujani kritikan pedas. Bahkan setelah menyaksikan The Dark Knight, Iron Man dan The Incredible Hulk bak tontonan anak-anak TK yang sangat terlihat ke’garing’annya. Jelas ini adalah tahunnya DC comics setelah beberapa tahun sebelumnya icon-icon mereka kalah tenar dan popular dibandingkan ikonnya Marvel yang telah mendapat tempat d hati public seperti Spider-Man dan X-Men misalnya. Jika mau dibuat sekuel keduanya pun ( dan saya harap semoga saja tidak ada rencana ke situ ), tantangan terbesar selain memunculkan kualitas yang minimal sama dengan The Dark Knight, juga sulitnya mencari peran yang layak menggantikan Heath Ledger sebagai sang Joker.
Comparations Iron Man The Incredible Hulk The Dark Knight
1. The Hero 8/10 7/10 8/10
2. Man Behind The Hero 8/10 7.5/10 8/10
3. Hero’s Girl 8.5/10 6/10 7.5/10
4. Plot 7/10 6.5/10 8.5/10
5. Special Effect 8/10 8/10 7.5/10
6. Directoral 6/10 6/10 8/10
7. Technist 7/10 6/10 8/10
8. Ending 7.5/10 7/10 8/10
9. Overal 8/10 7/10 9/10
Coal Miner's Logger
Mining Film
Apa yang akan anda pikirkan jika saya menyebut There Will Be Blood…..?? Jika Anda merupakan salah seorang penggemar film sejati, maka selain ingat dengan tagline film Saw III, maka pasti Anda akan menyebut sebuah judul film berkualitas yang dibintangi oleh actor watak berkaliber oscar Daniel Day-Lewis. Film garapan Paul Thomas Anderson yang diangkat dari novel karya Upton Sinclair yang berjudul Oil tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah produk seni bernama film yang hampir memiliki kesempurnaan di setiap aspeknya. Naskah yang kuat, penggarapan yang prima, dan tentu saja acting brilyan dari semua pemainnya membuat There Will Be Blood seharusnya mampu mengungguli No Country For Old Man dalam perebutan gelar best picture tahun 2008 lalu. Tapi bagi saya pribadi, film berdurasi panjang tentang seorang pengusaha minyak tersebut mengingatkan saya kepada bidang pekerjaan yang sedang saya jalani saat ini, yakni eksplorasi dan mining. Dalam film tersebut diceritakan tentang bagaimana perjalanan karier seorang Daniel Plainview dalam merintis usahanya. Bersama seorang putra semata wayangnya, Daniel berkelana mencari areal-areal yang kemungkinan mengandung minyak di dalam tanahnya, hingga akhirnya di suatu daerah Daniel harus berselisih paham dengan seorang pastor muda setempat, Eli Suday ( Paul Dano ). Perjalanan karier Daniel yang dirintis sejak awal, berhasil diceritakan Anderson dengan gamblang dan runtut termasuk ketika mesin bor ( baca : rig ) nya melakukan pengeboran. Di sini lah saya mulai membandingkan teknik-teknik pengeboran minyak dan batu bara, karena kebetulan saya bergelut di eksplorasi batu bara. Pada dasarnya keseluruhan dasar-dasar pengeboran antara mesin-mesin Daniel sama saja dengan sistem pengeboran rekan saya. Mesin dengan tinggi sekitar 5 – 8 meter ditempatkan di wilayah yang sekiranya mengandung bahan tambang tersebut. Untuk batu bara, biasanya mereka menggunakan mata bor yang terbuat dari intan. Tentu saja hal ini disebabkan karena intan termasuk salah satu logam terkeras yang sanggup mengebor batuan paling keras, andesit.
Kumuh, kotor, dan berlumpur sudah pasti menjadi makanan tiap hari bagi orang-orang yang bekerja dengan rig pengeboran. Hal ini juga yang saya lihat dalam There Will Be Blood. Di situ digambarkan pula, keras dan beratnya bekerja sebagai driller. Selain pekarjaan yang melelahkan, mereka juga harus melawan bahaya-bahaya yang mungkin timbul dari kesalahan ataupun kelalaian yang dapat mengakibatkan kecelakaan yang fatal. Kematian juga mungkin akibat yang tidak jarang ditemui daalam aktivitas pengeboran. Karena itulah diperluka aturan safety ( baca : keselamatan ) di tiap lokasi pertambangan. Tambang, baik itu yang sudah produksi ataupun yang masih dalam tahap eksplorasi selalu mengedepankan hal yang namanya safety. Kegiatan mereka dapat saja ditutup pemerintah jika terjadi sesuatu hal yang masuk dalam kategori pelanggaran berat safety, seperti kasusu kematian tadi misalnya. Dalam There Will Be Blood mungkin belum ada yang namanya aturan safety, karena apa yang dilakukan oleh Daniel dan perusahaannya itu merupakan pengeboran awal dan itu juga terjadi dalam beberapa tahun belakang, yakni sekitar tahun 1930. Sementara dalam North Country, kita bisa melihat beberapa pekerja dan karyawannya mengenakan helm dan baju bereflektor karena memang di situ diceritakan tentang sebuah perusahaan tambang bijih besi yang sudah berproduksi dan menggunakan berbagai macam alat berat. Tidak seperti filmnya Daniel Day-Lewis, film yang dibintangi oleh tiga peraih gelar best actress ini lebih mengutamakan ke sisi dramalurginya yakni seputar pelecehan seksual yang dialami pekerja wanita di lokasi tambang tersebut. Gambar-gambar seputar dunia pertambangan pun juga terlihat dikurangi oleh Niki Caro, sang sutradaranya, karena memang ia lebih focus terhadap penggalian karakter-karakter sentralnnya seperti Charlize Theron, Frances McDormand, dan Sissy Spacek, kendatipun itu juga tidak maksimal. Beda sekali dengan There Will Be Blood, dimana di situ ditampilkan pemandangan-pemandangan seputar dunia drilling yang penuh resiko dan menegangkan. Tak heran jika Robert Elwist sang cinematographer meraih oscar berkat kinerjanya tersebut. Mungkin There Will Be Blood, juga film pertama setelah Coal Miner’s Daughter yang menampilkan suasana drilling dan mining dengan predikat mendekati sempurna.
Baik There Will Be Blood ataupun North Country yang standar, saya sangat respect dengan keduanya. Karena bagi saya kedua film tersebut membuat saya bernostalgia dengan pekerjaan saya di dunia mining.
Just expecting more films abaout that……
Apa yang akan anda pikirkan jika saya menyebut There Will Be Blood…..?? Jika Anda merupakan salah seorang penggemar film sejati, maka selain ingat dengan tagline film Saw III, maka pasti Anda akan menyebut sebuah judul film berkualitas yang dibintangi oleh actor watak berkaliber oscar Daniel Day-Lewis. Film garapan Paul Thomas Anderson yang diangkat dari novel karya Upton Sinclair yang berjudul Oil tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah produk seni bernama film yang hampir memiliki kesempurnaan di setiap aspeknya. Naskah yang kuat, penggarapan yang prima, dan tentu saja acting brilyan dari semua pemainnya membuat There Will Be Blood seharusnya mampu mengungguli No Country For Old Man dalam perebutan gelar best picture tahun 2008 lalu. Tapi bagi saya pribadi, film berdurasi panjang tentang seorang pengusaha minyak tersebut mengingatkan saya kepada bidang pekerjaan yang sedang saya jalani saat ini, yakni eksplorasi dan mining. Dalam film tersebut diceritakan tentang bagaimana perjalanan karier seorang Daniel Plainview dalam merintis usahanya. Bersama seorang putra semata wayangnya, Daniel berkelana mencari areal-areal yang kemungkinan mengandung minyak di dalam tanahnya, hingga akhirnya di suatu daerah Daniel harus berselisih paham dengan seorang pastor muda setempat, Eli Suday ( Paul Dano ). Perjalanan karier Daniel yang dirintis sejak awal, berhasil diceritakan Anderson dengan gamblang dan runtut termasuk ketika mesin bor ( baca : rig ) nya melakukan pengeboran. Di sini lah saya mulai membandingkan teknik-teknik pengeboran minyak dan batu bara, karena kebetulan saya bergelut di eksplorasi batu bara. Pada dasarnya keseluruhan dasar-dasar pengeboran antara mesin-mesin Daniel sama saja dengan sistem pengeboran rekan saya. Mesin dengan tinggi sekitar 5 – 8 meter ditempatkan di wilayah yang sekiranya mengandung bahan tambang tersebut. Untuk batu bara, biasanya mereka menggunakan mata bor yang terbuat dari intan. Tentu saja hal ini disebabkan karena intan termasuk salah satu logam terkeras yang sanggup mengebor batuan paling keras, andesit.
Kumuh, kotor, dan berlumpur sudah pasti menjadi makanan tiap hari bagi orang-orang yang bekerja dengan rig pengeboran. Hal ini juga yang saya lihat dalam There Will Be Blood. Di situ digambarkan pula, keras dan beratnya bekerja sebagai driller. Selain pekarjaan yang melelahkan, mereka juga harus melawan bahaya-bahaya yang mungkin timbul dari kesalahan ataupun kelalaian yang dapat mengakibatkan kecelakaan yang fatal. Kematian juga mungkin akibat yang tidak jarang ditemui daalam aktivitas pengeboran. Karena itulah diperluka aturan safety ( baca : keselamatan ) di tiap lokasi pertambangan. Tambang, baik itu yang sudah produksi ataupun yang masih dalam tahap eksplorasi selalu mengedepankan hal yang namanya safety. Kegiatan mereka dapat saja ditutup pemerintah jika terjadi sesuatu hal yang masuk dalam kategori pelanggaran berat safety, seperti kasusu kematian tadi misalnya. Dalam There Will Be Blood mungkin belum ada yang namanya aturan safety, karena apa yang dilakukan oleh Daniel dan perusahaannya itu merupakan pengeboran awal dan itu juga terjadi dalam beberapa tahun belakang, yakni sekitar tahun 1930. Sementara dalam North Country, kita bisa melihat beberapa pekerja dan karyawannya mengenakan helm dan baju bereflektor karena memang di situ diceritakan tentang sebuah perusahaan tambang bijih besi yang sudah berproduksi dan menggunakan berbagai macam alat berat. Tidak seperti filmnya Daniel Day-Lewis, film yang dibintangi oleh tiga peraih gelar best actress ini lebih mengutamakan ke sisi dramalurginya yakni seputar pelecehan seksual yang dialami pekerja wanita di lokasi tambang tersebut. Gambar-gambar seputar dunia pertambangan pun juga terlihat dikurangi oleh Niki Caro, sang sutradaranya, karena memang ia lebih focus terhadap penggalian karakter-karakter sentralnnya seperti Charlize Theron, Frances McDormand, dan Sissy Spacek, kendatipun itu juga tidak maksimal. Beda sekali dengan There Will Be Blood, dimana di situ ditampilkan pemandangan-pemandangan seputar dunia drilling yang penuh resiko dan menegangkan. Tak heran jika Robert Elwist sang cinematographer meraih oscar berkat kinerjanya tersebut. Mungkin There Will Be Blood, juga film pertama setelah Coal Miner’s Daughter yang menampilkan suasana drilling dan mining dengan predikat mendekati sempurna.
Baik There Will Be Blood ataupun North Country yang standar, saya sangat respect dengan keduanya. Karena bagi saya kedua film tersebut membuat saya bernostalgia dengan pekerjaan saya di dunia mining.
Just expecting more films abaout that……
Langgan:
Entri (Atom)
